Tampilkan postingan dengan label Makalahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalahku. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

APLIKASI KNOWLEDGE MANAGEMENT DAN KNOWLEDGE SHARING DI PERPUSTAKAAN


Latar Belakang
Knowledge Management adalah suatu rangkaian kegiatan yang digunakan oleh organisasi untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan (transfer pengetahuan) untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam organisasi tersebut. Kegiatan ini terkait langsung dengan perpustakaan yang ditujukan untuk mencapai suatu hasil tertentu seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, atau tingkat inovasi yang lebih tinggi. Sedangkan Transfer pengetahuan sebagai salah satu aspek dari Knowledge Management dalam berbagai bentuk, telah sejak lama dilakukan oleh perpustakaan. Contohnya adalah melalui Knowledge Sharing dalam kerja, magang, pelatihan profesional, workshop, dll.

Pengertian Knowledge Management
Pemahaman konsep pengetahuan dan informasi menimbulkan berbagai penafsiran berbeda-beda. Para ahli dibidang informasi menyebutkan bahwa informasi adalah pengetahuan yang disajikan kepada seseorang dalam bentuk yang dapat dipahami; atau data yang telah diproses atau ditata untuk menyajikan fakta yang mengandung arti. Sedangkan pengetahuan berasal dari informasi yang relevan yang diserap dan dipadukan dalam pikiran seseorang. Sedangkan pengetahuan berkaitan dengan apa yang diketahui dan dipahami oleh seseorang. Informasi cenderung nyata, sedangkan pengetahuan adalah informasi yang diinterpretasikan dan diintegrasikan.
Menurut Gilbert Probst(2001, pp.24) dalam bukunya Managing Knowledge Building Block for Success mengemukakan bahwa knowledge adalah keseluruhan bagian dari pengetahuan yang ada dan keterampilan individu yang digunakan untuk memecahkan masalah. Knowledge tersebut terbagi dalam teori dan praktek yang pada umumnya berupa aturan dan petunjuk untuk mengambil keputusan. Knowledge bergantung pada data dan informasi yang dimiliki oleh suatu personal yang merefleksikan tentang suatu pendapat.
Menurut Garner Group (Koina, 2004), manajemen pengetahuan adalah suatu disiplin yang mempromosikan suatu pendekatan terintegrasi terhadap pengidentifikasian, pengelolaan dan pendistribusian semua asset informasi suatu organisasi. Selanjutnya disebutkan bahwa informasi yang dimaksud meliputi database, dokumen, kebijakan, dan prosedur dan juga keahlian dan pengalaman yang sebelumnya tidak terartikulasi yang terdapat pada pekerja perorangan.
Menurut Laudon (2002:372-3) manajemen pengetahuan berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan ke dalam proses bisnis.  Manajemen pengetahuan adalah serangkaian proses yang dikembangkan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut.
Amrit Tiwana (1999) mendefinisikan knowledge management secara luas dalam arti memanajemeni pengetahuan sebagai “ …management of organizational knowledge for creating business value and generating a competitive advantage.” KM memberikan kemampuan untuk mencipta, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan yang diperlukan dan berguna bagi pencapaian semua jenis tujuan bisnis. Menurut Amrit Tiwana  “Knowledge management is the ability to create and retain greater value from core business competencies.” KM menyelesaikan masalah bisnis partikular mencakup penciptaan dan penyebaran barang atau jasa inovatif, mengelola dan memperbaiki hubungan dengan para pelanggan, mitra dan pemasok; juga mengadministrasi serta meningkatkan praktek dan proses kerja.

Tujuan Knowledge Management
Knowledge Management bertujuan membuat user pintar melakukan pertukaran pengetahuan dengan mudah, cepat yang pada gilirannya akan membuat pengetahuan terus berkembang. Knowledge Management dalam tujuan itu adalah upaya menyebarkan, mempercepat pertukaran dan memanfaatkan pengetahuan.

Kompetensi Perpustakawan
Masalah sumber daya manusia di perpustakaan harus selalu mendapat perhatian serius. Hal ini penting mengingat perpustakaan adalah sarana publik yang dimanfaatkan oleh seluruh penggunanya. Penempatan staf yang tidak kompeten di perpustakaan sebetulnya tidak mengatasi masalah sumber daya manusia, melainkan justru mencoreng ‘wajah’ sendiri karena kualitas staf di perpustakaan menjadi salah satu indikator penilaian layanan prima di suatu universitas. Maka kompetensi menjadi persyaratan utama yang harus dipenuhi oleh sumber daya manusia di perpustakaan, karena kompetensi menawarkan suatu kerangka kerja yang efektif dan efisien dalam mendayagunakan sumber-sumber daya yang terbatas. Sumber daya manusia atau tenaga kerja yang memiliki kompetensi memungkinkan setiap jenis pekerjaan dapat dilaksanakan dengan optimal, efektif dan efisien.

Proses penciptaan Knowledge Management di Perpustakaan
Banyak perpustakaan yang tidak mengenal Knowledge Management, namun secara tidak sadar telah melaksanakannya. Menurut Thomas H. Davenport and Laurence Prusak, meyatakan bahwa minimal ada 3 hal yang merupakan awal penerapan knowledge management di suatu perpustakaan, yaitu jika perpustakaan dikelola dengan baik dalam arti lengkap sesuai kebutuhan, sistem informasi terpadu yang memuat informasi yang dibutuhkan, atau program pendidikan yang efektif.
Setelah diperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan pengetahuan maka kita dapat memulai untuk membangun Knowledge Management. Ada beberapa indikator yang dapat dijadikan acuan untuk mencapai proses dan penyebaran pengetahuan di perpustakaan. Tentu saja tidak semua indikator dapat dicapai secara optimal dalam waktu yang bersamaan, karena setiap indikator tergantung pemahaman pustakawan dalam menerapkan Knowledge Management.

Pengertian Knowledge Sharing
Knowledge Sharing adalah salah satu tahapan dalam Knowledge Management, dimana terjadi proses tukar-menukar pengetahuan. Knowledge Sharing memberikan kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi atau perusahaan untuk berbagi ilmu pengetahuan, teknik, pengalaman dan ide yang mereka miliki kepada anggota lainnya. Secara teori sarana Knowledge Sharing yang digunakan adalah :
a.         Pertemuan Tatap Muka
Pertemuan-pertemuan rutin, seminar, workshop, forum dan pemagangan. Sarana tatap muka ini menjadi sarana paling efektif, terutama pemagangan. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah struktur komunikasi yaitu kapan dan bagaimana pertemuan tatap muka dapat dilakukan, siapa dapat bertanya kepada siapa, bagaimana mendapatkan umpan balik dari pertanyaan yang diajukan dan sebagainya.
b.        Dokumentasi
Dokumentasi seluruh kegiatan dengan memanfaatkan tehnologi informasi dan komunikasi dalam rangka publikasi baik elektronik di website maupun non-elektronik melalui newsletter, majalah dan koran. Termasuk di dalamnya adalah notulensi dan pengumpulan dokumen dari kegiatan tatap muka di atas. Output atau sistem basis data dokumentasi ini kelak harus dapat diintegrasikan dengan website komunitas.
c.         Website
Website yang dibangun secara lokal memuat informasi terkini tentang berita, kegiatan komunitas, cerita pengalaman dan informasi lainnya. Sarana ini sebenarnya lebih kepada sharing informasi, tetapi dapat ditingkatkan menjadi Knowledge Sharing bilamana terjadi diskusi terhadap apa yang diinformasikan, seperti dengan menambahkan fitur komentar sehingga pengguna dapat mengomentari atau diskusi lebih lanjut dengan sumber informasi (penulis). Sebagai contoh blogging dengan weblog adalah salah satu sarana cerita pengalaman.
d.        Diskusi Elektronik
Diskusi secara elektronik dapat dilakukan melalui tele-conference, email, milis, blog, forum diskusi, wiki, dan internet-chatting. Tele-conference adalah komunikasi real-time dengan memanfaatkan tehnologi telepon dan video. Tele-conference lebih interaktif dibanding lainnya tetapi lebih sulit dalam menyiapkannya. Email bersifat komunikasi 2 orang. Milis adalah komunikasi melalui email dengan melibatkan sekumpulan orang. Blog pada awalnya adalah sarana bercerita (pengalaman), tetapi telah berkembang menjadi sarana diskusi dengan author sebagai pusatnya. Forum diskusi adalah diskusi dengan tema sebagai pusatnya. Wiki adalah sarana kolaborasi yang memungkinkan penulisan dokumen secara bersama. Internet-chatting seperti Yahoo Messenger, Windows Messenger, dan ICQ adalah komunikasi real-time antar 2 atau lebih orang melalui internet.
e.         Publikasi dan Newsletter
Pembuatan newsletter kepada anggota komunikasi, penerbitan majalah dan koran untuk menyebarkan pemikiran dan pengetahuan yang dimiliki komunitas, juga sekaligus dapat menjadi sarana promosi komunitas kepada masyarakat yang lebih luas. Publikasi dan newsletter ini dapat dilakukan baik offline maupun online (melalui website).
f.         Penelitian
Penelitian tidak harus merupakan kegiatan yang rumit, survey kecil juga masuk dalam kategori ini. Tukar-menukar pemikiran dan ide baru, akan lebih intensif terjadi. Kreatifitas dan inovasi akan terbangun lebih cepat dengan kegiatan seperti penelitian. Sebagai contoh beberapa waktu yang lalu ada sebuah penelitian tentang sejauh mana koleksi kedokteran dan ilmu kesehatan berbahasa arab bermanfaat bagi mahasiswa. Hasilnya menyatakan bahwa sebagian besar mahasiswa kurang memanfaatkan koleksi tersebut karena mahasiswa dalam hal ini sebagai pengguna koleksi kurang memahami bahasa arab, salah satu sebab adalah sebagian besar mahasiswa berasal dari non pesantren.

KESIMPULAN
Knowledge Sharing sebagai salah satu aspek dari Knowledge Management dalam berbagai bentuk, telah sejak lama dilakukan oleh perpustakaan. Banyak perpustakaan yang tidak mengenal Knowledge Management dan Knowledge Sharing, namun secara tidak sadar telah melaksanakannya.


DAFTAR PUSTAKA

Davenport, Thomas H & Prusak, L (1998) .Working Knowledge : How Organizations Manage What They Know. Boston: Harvard Business School Press.
Laudon, Kenneth C. and Jane P. Laudon (2002). Management Information System: Managing the Digital Firm, 7th. New Jersey : Prentice-Hall.
Probst, Gilbert., Raub, Steffen, & Romhardt, Kai  (2001) . Managing Knowledge Building Blocks for Success. New York : John Wiley & Sons.
Tiwana, Amrit (1999) . The Knowledge Management Toolkit. New Jersey: Prentice Hall PTR.

Kamis, 29 Juli 2010

PERPUSTAKAAN DAERAH KABUPATEN JEPARA SEBELUM DAN SESUDAH KERUSUHAN MASSA TAHUN 1998

-->A. Latar Belakang
Perkembangan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari sejarah manusia karena perpustakaan adalah produk manusia. Dan salah satu prinsip kepustakawanan adalah perpustakaan harus tumbuh berkembang karena perpustakaan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan sumber daya manusia guna mewujudkan masyarakat yang berkualitas. Posisi strategis perpustakaan sebagai sarana pendidikan non formal, dalam skala luas sangat dibutuhkan untuk menunjang program belajar sepanjang hayat ( Long Live Education ) bagi masyarakat.
Perpustakaan yang berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai jasa layanan yang lain. Hal tersebut telah ada sejak dulu dan terus berproses secara alamiah menunjuk kepada suatu kondisi dan tingkat perbaikan yang signifikan meskipun belum memuaskan semua pihak.
Perpustakaan sebagai pusat informasi dan masyarakat yang membutuhkan informasi ibarat dua sisi mata uang yang saling berhubungan yang tak dapat dipisahkan. Hal itu dapat terwujud bila perpustakaan sudah siap melayani dengan sumber informasi yang memadai.
Selain itu perpustakaan juga sebagai rangkaian catatan sejarah masa lalu yang merupakan hasil budaya umat manusia yang sangat tinggi. Di dalam perpustakaan tersimpan harta dari masa silam dalam wujud karya sastra, buah pikiran, filsafat, teknologi, peristiwa-peristiwa besar sejarah umat manuasia, dan ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu secara sederhan dapat dikatakan bahwa perpustakaan merupakan hasil budaya dan catatan (record) perjalanan sejarah umat manusia. Sementara itu segala sesuatu yang terjadi dapat direkam dan dibukukan untuk disimpan, di lestarikan dan diabadikan di perpustakaan kemudian dimanfaatkan bersama-sama bagi kehidupan seluruh umat (Sutarno, 2006).
Keberadaan sebuah perpustakaan di tengah-tengah kehidupan masyarakat karena adanya hubungan kausal atau adanya hubungan sebab dan akibat. Artinya:
1. Adanya keinginan atau kehendak dari sekelompok masyarakat atau golongan tertentu. Masyarakat umum menghendaki adanya perpustakaan umum, masyarakat sekolah menghendaki adanya perpustakaan sekolah, perguruan tinggi menghendaki disediakan perpustakaan perguruan tinggi, dan masyarakat khusus atau kedinasan juga menginginkan tersedianya perpustakaan kedinasan
2. Adanya suatu akibat yang ditimbulkan atas suatu penyebab. Akibat itu dapat berupa suatu respon atau reaksi dari organisasi atau lembaga, baik lembaga pemerintahan, unit kerja, pemimpin atau penanggung jawab. Suatu tindakan, kebijakan, ataupun sikap yang diambil tersebut berupa upaya atau kegiatan dan tindakan untuk membangun atau mendirikan sebuah perpustakaan.
Berdasarkan hal tersebut, maka keberadaan sebuah perpustakaan merupakan sesuatu yang conditio sine quano yaitu sesuatu yang tidak boleh tidak. (Sutarno, 2006)
Namun juga perlu diingat bahwa walaupun perpustakaan tumbuh berkembang, tidak semua perpustakaan selamat. Perpustakaan Iskandaria yang besar itu kini lenyap tidak berbekas. Demikian pula ratusan perpustakaan biara dan katedral di Inggris, semua rusak binasa. Juga sejarah menyaksikan bahwa perpustakaan dengan koleksi lempengan tanah liat, gulungan papirus dan codex parchmen juga lenyap dari sejarah.
Keberadaan perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara juga pernah mengalami hal yang sama. Menurut catatan sejarah masyarakat Kabupaten Jepara tentang keberadaan dan perkembangan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara menunjukkan bahwa perpustakaan sudah ada sejak tanggal 16 Agustus 1984 dengan koleksi buku sekitar 1000 eksemplar. Pada tahun 1998 di Indonesia terjadi rangkaian konflik masyarakat dalam berbagai bentuk hingga terjadinya kerusuhan massa. Salah satu isu yang menonjol pada saat itu adalah SARA. Di Kabupaten Jepara juga terjadi peristiwa yang sama pada hari Selasa tanggal 7 Juli 1998. Akibat dari peristiwa pada saat itu tidak hanya memporak prandakan komplek kantor Bupati Jepara tetapi juga membakar gedung korpri dan gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Jepara yang baru diresmikan sekitar dua bulan. Selain gedung perpustakaan, koleksi serta seluruh perabot perpustakaan musnah dilalap api dengan jumlah buku yang ikut terbakar 10.500 eksemplar. Kemudian pada tanggal 10 April 1999 bertepatan dengan Hari Jadi Kota Jepara, dirintis terwujudnya kembali Perpustakaan Umum oleh Bupati Jepara pada saat itu Bapak Drs. H. Soenarto dengan koleksi hanya sekitar 750 eksemplar. Biaya sepenuhnya dari Pemerintah Kabupaten Jepara dibantu oleh Perpustakaan Propinsi Jawa Tengah.
Pada tahun 2010 ini Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara telah memiliki lebih dari 50.000 eksemplar berupa buku yang dibagi menjadi beberapa tempat diantaranya Kantor perpustakaan sendiri, tiga warung baca dan tiga perpustakaan keliling. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi lain berupa alat peraga edukatif, bendel tiga koran nasional dari tahun 2005 hingga sekarang. Beberaa yang lain seperti bendel beberapa majalah baik majalah anak-anak maupun majalah dewasa.
Untuk menyelenggarakan sebuah perpustakaan yang mandiri dan mampu memberikan layanan yang maksimal kepada masyarakat agar perpustakaan berkembang dengan baik maka harus didasarkan salah satunya pada filosofi. Filosofi perpustakaan merupakan sebuah landasan untuk membangun, membentuk, menyelenggarakan, mengembangkan dan memberikan layanan perpustakaan. Dalam tataran filosofi ini biasanya dikaitkan dengan beberapa pertanyaan yang mendasar tentang perpustakaan, mengapa perpustakaan didirikan, apa tujuannya, siapa yang membangun, bagaimana kelangsungannya di masa depan, bagaimana perkembangannya dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik sekali untuk mengadakan penelitian tentang perkembangan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara sebelum dan sesudah terjadi kerusuhan massa tahun 1998.
B. Rumusan Masalah
Permasalan pokok yang dibahas dalam penulisan ini adalah perkembangan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara dari tahun 1984 sampai dengan tahun 2009. Dan kajian ini difokuskan terhadap salah satu peristiwa yang menjadi tantangan atau ancaman terhadap keberadaan dan eksistensi perpustakaan di tahun 1998. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana asal-usul dan latar belakang berdirinya kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara serta siapa tokoh pencetusnya?
2. Peristiwa kerusuhan massa yang menyertai perkembangan perpustakaan dan bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara?
3. Bagaimana kondisi Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara sekarang dibanding dengan kondisi sebelum kerusuhan massa?
4. Bagaimana peran masyarakat dalam perkembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Mendiskripsikan dan menganalisis peristiwa berdirinya kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara dan menelusur tokoh yang menjadi pencetus didirikannya kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara.
2. Mendiskripsikan salah satu peristiwa hebat yang menyertai perkembangan dan menganalisis pengaruhnya terhadap perkembangan kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara.
3. Mendiskripsikan keadaan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara sebelum dan sesudah peristiwa tesebut.
4. Mendiskripsikan peran masyarakat dalam perkembangan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara
5. Membukukan peristiwa berdiri dan berkembangnya kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara.
D. Metode dan Teknik Penelitian
Metode adalah cara kerja untuk memahami objek suatu penelitian (Yudiono, 1986: 14). Metode ilmiah adalah cara dan sekaligus proses berlangsungnya kegiatan membangun ilmu pengetahuan dari pengetahuan yang masih bersifat prailmiah yang dilakukan secara sistematis dan mengikuti asas pengaturan prosedural teknik normatif, sehingga memenuhi persyaratan kesahihan atau kekhususan keilmuan yang lazim juga disebut validitas ilmiah yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan (Abdurrahmat, 2006: 59). Dan metode penelitian adalah cara kerja yang digunakan dalam melakukan suatu penelitian (Abdurrahmat, 2006: 99).
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian kualitatif karena masalah yang diungkap memerlukan kedalaman kajian dan data yang dipelajari dalam penelitian ini lebih banyak berupa cerita dari tokoh yang menjadi sumber informasi.
Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan metode historis dan deskriptif, karena penulisan penelitian ini bersifat historis dan metode ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan menganalisis peristiwa-peristiwa masa lampau. Metode ini bertumpu pada empat langkah kegiatan, yaitu:
1. heuristik (pengumpulan sumber)
Kegiatan ini merupakan teknik mencari dan mengumpulkan sumber-sumber historis. Menurut G.J. Reiner dalam Dudung (2007: 64) heuristik adalah suatu teknik, suatu seni, dan bukan suatu ilmu. Oleh karena itu, heuristik tidak mempunyai peraturan-peraturan umum. Heuristik sering kali merupakan suatu keterampilan dalam menemukan, menangani dan memerinci bibliografi, atau mengklasifikasi dan merawat catatan-catatan.
Salah satu prinsip kegiatan ini adalah mencari sumber primer, yaitu sumber yang disampaikan oleh saksi mata. Hal ini dalam bentuk dokumen, arsip pemerintah dan sumber lisan yang didapat dari hasil wawancara langsung dengan beberapa pelaku peristiwa dan saksi mata.
Namun begitu, untuk lebih memperkuat penulisan ini, penulis juga melakukan pencarian sumber primer, yaitu berita di koran, di internet dan majalah.
2. kritik sumber
Kritik sumber adalah teknik verifikasi untuk memperoleh keabsahan sumber yang meliputi keaslian sumber dan kesahihan sumber.
3. interpretasi
Interpretasi sering disebut juga dengan analisis yang bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta dalam suatu interpretasi yang menyeluruh. Bekhofer, dikutip Alfian dalam Dudung (2007: 73)
4. historiografi
Fase terakhir adalah historiografi, merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan penelitian ilmiah yang telah dilakukan.
Sedangkan metode dalam melakukan pengumpulan data menggunakan beberapa teknik pengumpulan data diantaranya:
1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran.
2. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancarai.
3. Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan, arsip-arsip dan dokumentasi yang ada.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penulisan ini adalah:
1. Bagi Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara :
a. Sebagai sumbangan bagi Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara dalam mengumpulkan informasi tentang keberadaan dan perkembangan Kantor Perpustakaan Daerah serta membukukannya.
b. Sebagai bahan kajian guna mengembangkan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara selanjutnya.
2. Bagi Penulis :
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan pengetahuan mengenai penulisan ilmiah dalam hal ini tentang kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara serta penulis dapat menerapkan ilmu dan teori-teori yang telah diperoleh dari bangku kuliah.
3. Bagi Pemustaka :
a. Dapat memberikan gambaran kepada pemustaka tentang keberadaan dan perkembangan kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara.
b. Dapat memberikan bahan kajian bagi pemustaka dalam melakukan penelitian lain.
c. Dapat memberikan motivasi kepada pemustaka dalam hal ini masyarakat Kabupaten Jepara agar lebih meningkatkan minat bacanya.
F. Tinjauan Literatur
Karena perkembangan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari sejarah manusia maka mengkaji perjalanan perkembangan Perpustakaan juga mengkaji manusia dalam skala luas adalah masyarakat. Menurut Sulistyo Basuki (1993, 25) Perkembangan perpustakaan tidak terlepas dari perkembangan masyarakat. Kondisi yang mempengaruhi perkembangan masyarakat mempengaruhi perkembangan perpustakaan. Selanjutnya juga menurut Sulistyo Basuki bahwa eksistensi perpustakaan dalam masyarakat tetap dipertahankan karena perpustakaan mempunyai fungsi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Menurut Sutarno (2006) perkembangan suatu perpustakaan dapat dilihat dari 4 sektor utama, yaitu:
1. Koleksi
2. Sumbar Daya Manusia
3. Masyarakat Pemakai
4. Sistem Layanan
Karena penulisan ilmiah ini lebih menggunakan pendekatan ilmu sejarah maka teori dan konsep yang penulis gunakan diantaranya juga menggunakan teori dan konsep ilmu sejarah. Para ahli di bidang sejarah menyatakan bahwa untuk mempermudah di dalam pengkajian terhadap peristiwa-peristiwa masa lampau akan selalu membutuhkan teori dan konsep, yang keduanya berfungsi sebagai alat-alat analisis serta sintesis sejarah.
Teori ilmu sejarah yang penulis gunakan adalah teori kausalitas yang disampaikan Ankersmit bahwa kasualitas dalam pengkajian sejarah biasanya berkaitan dengan proses-proses perubahan sehingga menyebutkan sebab suatu peristiwa itu berkaitan erat dengan keterangan tentang perubahan (Abdurahman, 2007: 43). Selanjutnya Ankersmit juga menyampaikan bahwa hal ini sangat lazim karena suatu proses sejarah pada dasarnya adalah proses perubahan juga. Teori kasualitas secara umum dapat diklasifikasikan menjadi monokausalitas dan multikausalitas. Namun dalam penulisan ini yang penulis gunakan adalah monokausalitas yang artinya kausalitas peristiwa dirujuk pada suatu faktor saja, dalam hal penulisan ini adalah rasial.
Berikutnya, penulis juga menggunakan konsep sejarah yaitu konsep empirik. Konsep empirik adalah sesuatu yang dikonseptualisasikan itu dapat dibuktikan dan diukur dengan data pancaindra. Berdasarkan konsep empirik sesuatu itu dapatlah di telaah secara intelektual dan berbagai aspek yang ada di dalamnya dapat diidentifikasi dan dianalisis.
Secara umum, perkembangan peristiwa dalam kurun waktu tertentu memang bertemu dengan bermacam-macam perubahan yang mempengaruhinya. Menurut Poloma, mengenai perubahan sosial misalnya, pendekatan sejarah perlu melacak struktur sosial yang melatarbelakangi perubahan-perubahan dalam masyarakat, termasuk konflik-konflik sosial dan kepentingan, sistem-sistem tradisional dan keagamaan, dan pola hubungan antar kelompok dalam masyarakat yang bersangkutan (Abdurahman, 2007: 37).
G. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan ini meliputi komposisi sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang, alasan pemilihan judul, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode dan teknik penelitian, manfaat dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
Berisi tentang penelitian terdahulu dan teori yang dipakai sebagai kajian analisis.
Bab III Lokasi dan Objek Penulisan
Berisi tentang gambaran umum keadaan lokasi penulisan dan keadaan objek penulisan.
Bab IV Pembahasan
Berisi tentang paparan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.
Bab V Kesimpulan
Berisi tentang kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan sebelumnya.
Setelah kesimpulan dicantumkan daftar pustaka.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Dudung. Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.
Basuki, Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Fathoni, Abdurrahmat. Metodologi Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Sutarno NS. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Sagung Seto, 2006
Sutarno NS. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto, 2006

Selasa, 12 Januari 2010

MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA MAHASISWA Permasalahan dan Upayanya




MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA MAHASISWA
Permasalahan dan Upayanya










Oleh :

RATNA KRISWIJAYANTI
NIM : A2D309003






PROGRAM S I ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2009

MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA MAHASISWA
Permasalahan dan Upayanya


I. PENDAHULUAN
Minat baca adalah kekuatan yang mendorong untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Aspek minat baca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.
Majunya sebuah bangsa tidak pernah lepas dari kegiatan belajar-mengajar yang berhasil. Belajar sendiri sangat identik dengan membaca. Membaca apa saja, mulai dari bahan hasil print media cetak ataupun media elektronik. Buku adalah satu dari beberapa jenis media yang banyak memberikan ilmu pengetahuan. Jenis buku itu sendiri dapat bermacam-macam, mulai dari buku pelajaran sampi buku cerita/novel. Selain buku, masih banyak lagi media lainnya yang bisa membagi informasi, ilmu pengetahuan dan wawasan. Contohnya adalah Koran, majalah, tabloid, dan yang paling canggih karena menggunakan media elektronik adalah internet. Namun, ternyata peminat bacaan kedua jenis media di atas adalah sangat rendah.
Kita bisa melihat seperti di perpustakaan, ada waktu ramai dan senggang dikunjungi orang. Pada waktu ramai misalnya, siswa/ mahasiswa akan berdatangan ke perpustakaan untuk membuat PR atau tugas, mencari bahan kuliah,atau mencari referensi. Itu semua adalah tuntutan sebagai salah satu kewajiban yang harus dipikul oleh seorang pelajar. Tapi, di luar itu apakah mereka akan membaca lagi? Jawabannya adalah “belum tentu”.
Rendahnya motivasi membaca ini juga diungkapkan oleh James Moffet, seorang spesialis seni bahasa dan co-pengarang buku Student-Centered Language Art K-12 mengatakan bahwa persoalan-persoalan membaca disebabkan oleh rendahnya motivasi siswa untuk membaca.

II. PERMASALAHAN
A. Indikator Rendahnya Minat Baca Mahasiswa
Berdasarkan beberapa kajian dan artikel yang diakses dari internet, ada beberapa indikator yang dapat diidentifikan sebagai faktor yang mempengaruhi minat baca mahasiswa, sebagai berikut ini.
  1. Seperti info yang dikutip dari sebuah situs, kurangnya minat baca pada mahasiswa pada umumnya dapat dibuktikan dari jumlah buku yang terbit di Indonesia. Jumlahnya hanya mencapai 5000-10.000 judul buku per tahun. Angka tersebut sangat kecil kalau dibandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul buku per tahun, dan Inggris lebih dari 100.000 judul per tahun.
  2. Dan juga dari berbagai sumber informasi yang dapat dipercaya, menunjukkan ada indikasi bahwa minat baca masyarakat masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 yang menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id, diakses tanggal 24 Desember 2007).

B. Faktor Penyebab Rendahnya Minat Baca Mahasiswa
Mengapa minat baca mahasiswa dikatakan rendah? Ada banyak hal yang dikatakan oleh Arixs yang menjadi penyebab rendahnya minat baca pada mahasiswa, yaitu:
  1. Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/ siswa/ mahasiswa harus membaca buku, mencari informasi/ pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, sastra, dan lain-lain.
  2. Banyaknya tempat hiburan dan jenis hiburan, permainan, dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian mereka dari menbaca buku.
  3. Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Budaya tutur masih dominan daripada budaya membaca.
  4. Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.
  5. Tidak meratanya penyebaran bahan bacaan di berbagai lapisan masyarakat.
  6. Dorongan membaca tidak ditumbuhkan dalam jenjang pendidikan praperguruan tinggi.

III. UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA MAHASISWA
Berbagai rujukan di atas memberikan suatu hipotesis bahwa minat baca mahasiswa rendah. Sementara itu, infrastruktur yang mengkondisikan agar minat baca tumbuh dan berkembang. Maka, perlu upaya-upaya yang dilakukan agar minat baca dapat tumbuh sejak anak usia sekolah atau bahkan sejak dini.
Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan minat baca pada mahasiswa ini antara lain dilakukan dengan cara :
  1. Proses pembelajaran di kampus harus dapat mengarahkan kepada peserta didik untuk rajin membaca buku dengan memanfaatkan literatur yang ada di perpustakaan atau sumber belajar lainnya. Disinilah peran dosen sebagai pendidik dan pengajar memberikan motivasi melalui pembelajaran mata pelajaran yang relevan memberi tugas kepada peserta didiknya.
  2. Menekan harga buku bacaan maupun buku pelajaran agar terjangkau oleh daya beli pelajar dan mahasiswa.
  3. Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik. Bahkan seorang penulis Henny Supolo Sitepu mengemukakan bahwa komik adalah salah satu bentuk bacaan yang bisa menjadi salah satu “pintu masuk” untuk kesenangan anak membaca. Pesan yang disampaikan mudah dicerna anak. Komik, semisal Tintin, dari gambar tokohnya sudah bisa “berbicara” dan bikin tertawa. Bahkan anak yang belum bisa baca-tulis pun akan menangkap ceriteranya.
  4. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca mahasiswa. Baik di rumah maupun di sekolah.
  5. Menumbuhkan minat baca sejak dini. Bahkan sejak anak mengenal huruf. Di rumah orang tua memberikan contoh membaca untuk anak-anaknya.
  6. Meningkatkan frekuensi pameran buku di setiap kota/ kabupaten dengan melibatkan penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat pecinta buku, Depdiknas, dan sekolah-sekolah. Dengan mewajibkan pelajar dan mahasiswa untuk berkunjung pada pameran buku tersebut.
  7. Membentuk forum-forum diskusi yang tujuan utamanya adalah menumbuhkan dan meningkatkan minat baca para mahasiswanya sekaligus sebagai dasar membuat tulisan karena dalam forum ini mahasiswa akan meresensi buku yang disediakan pihak kampus.
  8. Kegiatan bedah buku dan semacamnya dengan harapan kesadaran mahasiswa akan pentingnya buku akan tumbuh.

IV. PEMANFAATAN TEORI KOMUNIKASI
Pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa latin communication dan berasal dari bahasa inggris communis yang berarti sama, yaitu sama makna mengenai suatu hal. Secara terminologis berarti proses penyampaian penyataan oleh seseorang kepada orang lain.
Menurut Joseph A Devito adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih yakni kegiatan menyampaikan dan menerima pesan yang mendapat distorsi dan gangguan-gangguan yang menimbulkan efek dan kesempatan arus balik. Dan menurut Carld I Hoveland (1955) komunikasi adalah proses yang mana seorang individu (komunikator) mengoperkan stimuli (biasanya menggunakan lambing-lambang bahasa) untuk mengubah tingkah laku individu (komunikan) yang lain.
Jadi komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).
Dalam masalah ini penulis menggunakan teori komunikasi 2 teori yaitu:
  1. Teori Model Lasswell adalah Salah satu teoritikus komunikasi massa yang pertama dan paling terkenal adalah Harold Lasswell, dalam artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan sering dikutif banyak orang yakni: Siapa (Who), berbicara apa (Says what), dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom) dan pengaruh seperti apa (what that effect) (Littlejhon, 1996).
  2. Teori Ketergantungan (Dependency Theory) Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball Rokeach dan Melvin Defleur. Di dalam model mereka, mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar. Teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.

V. PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pemaparan tentang minat baca pada mahasiswa tersebut di atas, dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai berikut ini.
  1. Bahwa minat baca masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa relatif rendah. Mereka lebih senang mencari hiburan pada acara di TV, warnet, mall, play station atau tempat hiburan lainnya di banding membaca buku di perpustakaan.
  2. Universitas dan dosen belum membudayakan mahasiswa untuk menggunakan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar. Sehingga mahasiswa sangat rendah apresiasinya terhadap karya sastra maupun buku maupun karya tulis lainnya.
  3. Minimnya koleksi buku-buku di perpustakaan. Di samping itu, perpustakaan yang ada tidak dikelola secara profesional.
  4. Jumlah perpustakaan tidak sepadan dengan jumlah penduduk di Indonesia. Sebagai contoh tidak semua kota/kabupaten di Indonesia memiliki perpustakaan. Sekarang kita baru memiliki 261 perpustakaan dari sekitar 450 kabupaten/kota se-Indonesia, ini berarti masih banyak kabupaten/kota yang belum memiliki perpustakaan.

B. Saran
Minat baca sebaiknya ditumbuhkan sejak usia dini yaitu sejak masa kanak-kanak. Minat membaca pada anak tidak akan terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan anak. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dalam menanamkan, menumbuhkan dan minat baca anak. Anak-anak bisa diberi buku anak-anak seperti dongeng, legenda, dan buku cerita lainnya. Cerita dalam karya ini mengalir sedemikian rupa yang membuat anak-anak tertarik membacanya. Aktivitas seperti ini merupakan langkah awal yang baik untuk menggerakkan kemauan membaca.

REFERENSI

Arixs. 2006. Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. TOKOH, Bacaan Wanita dan Keluarga. Senin, 29 Mei 2006.

Hari Karyono Menunbuhkan minat baca sejak dini [online] Tersedia :http:// www.rumahcendaskreatif.com, diakses tanggal 25 desember 2009

Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Dedy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Buku, jurnal, dan sumber dari internet yang relevan.